Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan (Google eBook)

Front Cover
Bentang Pustaka, Jun 1, 2005 - 358 pages
2 Reviews

Madiun 1948, PKI di bawah pimpinan Musso melakukan pemberontakan hebat. Ini kali kedua PKI melakukan perlawanan bersenjata setelah apa yang mereka lakukan pada 1926. Akibat pemberontakan tersebut, ribuan jiwa melayang. Mereka bukan saja rakyat yang tidak berdosa, melainkan juga para pelakunya.

Peristiwa yang kemudian disebut sebagai Madiun Affair ini ternyata sangat menarik perhatian Soe Hok Gie. Lewat serangkaian penelitian, Soe Hok Gie mencoba mencari akar persoalan penyebab terjadinya peristiwa tragis ini. Dan lewat buku inilah Soe Hok Gie memberikan gambaran yang jelas dari pertanyaan-pertanyaan tentang fakta sejarah yang selama ini menjadi lembaran hitam bagi bangsa Indonesia.

Apa sebenarnya yang melatarbelakangi pemberontakan PKI Madiun? Siapa sebenarnya Musso, orang yang dikader oleh H.O.S. Tjokroaminoto? Betulkah ini hanya persoalan ideologi semata dan bukan persoalan sosial pada saat itu? Serangkaian pertanyaan ini akan Anda temukan jawabannya melalui sebuah karya utama Soe Hok Gie, seorang tokoh muda yang menjadi inspirasi para aktivis muda setelahnya. [Mizan, Bentang, Memoar, Sejarah, Indonesia]

  

What people are saying - Write a review

We haven't found any reviews in the usual places.

Contents

I
1
II
43
III
67
IV
129
V
165
VI
239
VII
283
VIII
289
Copyright

Common terms and phrases

Popular passages

Page 19 - Communist vanguard, the revolutionary masses will not be led astray, but will go ahead through the . successive periods of development of revolutionary experience. Indeed, it would be extremely erroneous in many of the oriental countries to try to solve the agrarian problem according to pure Communist principles. In its first stages the revolution in the colonies must be carried on with a program which will include many petty bourgeois reform clauses, such as division of land, etc.
Page 19 - In its first stages, the revolution in the colonies must be carried on with a program which will include many petty bourgeois reform clauses, such as division of land, etc. But from this it does not follow at all that the leadership of the revolution will have to be surrendered to the bourgeois democrats. On the contrary, the proletarian parties must carry on vigorous and systematic propaganda of the Soviet idea and organize the peasants' and workers
Page 19 - The revolution in the colonies is not going to be a communist revolution in its first stages. But if from the outset the leadership is in the hands of a communist vanguard, the revolutionary masses will not be led astray, but may go ahead through the successive periods of development of revolutionary experience.

About the author (2005)

Soe Hok Gie (17 Desember 194216 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 19621969.

Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.

Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksiMahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Hok Gie meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis, di puncak Gunung Semeru akibat menghirup asap beracun gunung tersebut.

John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).

Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film Gie.

Bibliographic information