Edensor: Tetralogi Laskar Pelangi

Front Cover
Bentang Pustaka, Jan 1, 2007 - Indonesian fiction - 288 pages
75 Reviews

Novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi ini bercerita tentang petualangan Ikal dan Arai di Eropa. Setelah berhasil memperoleh beasiswa ke Prancis, Ikal dan Arai, mengalami banyak kejadian yang orang biasa sebut sebagai kejutan budaya. Banyak kebiasaan dan peradaban Eropa yang berlainan sama sekali dengan peradaban yang selama ini mereka pahami sebagai orang Indonesia,khususnya Melayu.

Di dalam buku ini juga Ikal dan Arai kembali menuai karma akibat kenakalan-kenalan yang pernah mereka lakukan semasa kecil dan remaja dulu. Pembaca akan dibawa ke dalam petualangan mereka menyusuri Eropa dengan berbagai pengalaman yang mencengangkan, mencekam, membuat terbahak, sekaligus berurai air mata. 

Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup! Novel ini kian meneguhkan kehadiran tetralogi Laskar Pelangi sebagai karya unggul yang pasti disukai pembaca. —Ahmad Tohari, sastrawan Andrea Hirata membuatku mabuk kepayang!—Linda Christanty, cerpenis Berpotensi memberikan letupan inspirasi bagi pembacanya.—Tabloid Wanita Indonesia [Bentang, Motivasi, Inspirasi, Novel, Indonesia]

 

What people are saying - Write a review

User ratings

5 stars
50
4 stars
14
3 stars
5
2 stars
2
1 star
4

User Review - Flag as inappropriate

Aku selesai membaca awal 2009, waktu itu banyak pekerjaan dan aku berusaha untuk menyelesaikan bacaan buku ke-3 tetralogi laskar pengalangi ini..., Isi sangat Inspiratif, menaikkan Mood, memberikan kesedaran bahwa inilah Indonesia sesungguh di balik kaca mata orang-orang yang sukses dan menimba ilmu di luar negri...
" Saya Ingat: Ini Adalah Mimpi, Yang mewujudkannya hanya kerja keras dan niat yang tercapai"
Mari Kawan-kawan Kita bermimpi...............
 

User Review - Flag as inappropriate

Edensor merupakan seri ke-3 dari tetralogi Laskar Pelangi. Cerita dibalik buku Edensor berintisarikan pencarian jati diri oleh penulis. Kisah dimulai dari petualangan penulis (Andrea Hirata) dengan Weh, seorang umat manusia yang memiliki otak jenius namun harus memilih hidup sebagai nelayan (yang 24 jam tinggal di perahunya) karena penyakit yang dideritanya.
Pelaut Weh memberikan pelajaran hidup yang sebenarnya kepada penulis. Weh membawa penulis mengarungi perairan dengan perahunya. Hingga suatu saat penulis merasa untuk pertam kalinya sebagai seorang lelaki, karena telah dipercayai dan berhasil sebagai nakhoda di tengah malam yang gelap. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat dilakukan oleh seorang anak kecil belasan tahun?
Dilanjutkan dengan kisah petualangan di Eropa. Di hari pertama ketibaan mereka di Eropa, Penulis dan sepupunya Arai, tidur di taman, bermandikan butiran salju. Malam itu suhu drop sampai dengan -19 derajat Celcius. Perlahan tapi pasti, penulis merasa badannya kaku diterjang kedinginan salju. Mungkin ajal telah dekat. Arai yang selalu bertindak sebagai pahlawan, menidurkan penulis di atas tanah yang telah berubah menjadi balok salju. Darah segar pun tampak mengalir dari hidung penulis, tampak jelas di antara salju yang putih bersih. Arai selanjutnya menimbuni tubuh penulis dengan daun-daun rowan yang membusuk. Ternyata daun-daunan tersebut berhasil menghasilkap uap panas dan menghangatkan badan penulis. Sebuah ilmu yang sangat berguna di waktu yang sangat tepat. Arai memang selalu unik baik untuk ‘kegilaannya’ maupun kepintarannya.
Andrea selalu membawa kertas cinta Edensor. Betapa dia ingin sekali bertemu dengan A Ling, wanita yang dicintainya tersebut. Demikian dengan Arai, membacakan puisi buat wanita yang dicintainya Zakiah Nurmala. Puisi tersebut dibacakan pada tanggal 3 Juli, yakni hari kematian penyanyi Legendaris Jim Morrison, dan di kuburan sang Legendaris itu pula. Sementara seantero Paris memutar lagu yang sama, “End of Night”-nya Jim Morrison.
Di masa liburan, penulis dan Arai ingin mewujudkan mimpinya menjelajahi Eropa dan Afrika. Tapi mereka sadar, tidaklah mudah untuk mewujudkan impian tersebut, butuh banyak uang. Akhirnya, melalui bantuan seorang mahasiswa Amsterdam School Of The Arts, Famke Somkers. Somkers dan teman-temannya mengubah penulis dan Arai menjadi seekor ikan duyung dan anaknya. Dengan menggunakan kostum ikan duyung beserta beberapa perlengkapan make-up, penulis dan arai dapat menjelajahi eropa dan afrika.
Karena di Eropa sudah terbiasa budaya backpacker (turis miskin-bepergian dengan mengeluarkan biaya sekecil mungkin, termasuk membawa sleeping bag-), penulis dan Arai pun demikian. Dan karena mereka berdua memegang Schenge Visa, memudahkan mereka menjelajahi Eropa tanpa ada urusan antah belantah layaknya sekarang ini di Asia.
Perjalanan mereka melalui Jerman, Denmark, Swedia, Norwegia, Skandinavia, Finlandia dan yang lainnya. Di rusia yang sebahagian besar wilayahnya adalah daratan, mereka harus memakan dedaunan. Mereka juga pernah ditawari oleh seorang homo dan dibayar dengan tinggi. Mereka pernah ditangkap polisi di Syzran, yang mana hal paling berharga yakni Kompas dan Collins World Atlas mereka tertinggal di kantor polisi tersebut.
Selain itu, mereka juga pernah hampir mati di Rumania karena dihadang 4 orang pecandu narkoba, dan diselamatkan oleh orang Indonesia yang terbuang di sana. Namun mereka berjaya di Yunani dan Nabpaktos karena mereka mendapat sumbangan yang sangat banyak dari hasil ngamen mereka sebagai ikan duyung dan anaknya. Karena bergelimangan duit, mereka membeli barang-barang yang mereka idamkan. Penulis membeli kacamata ray ban, celana cutbrai kordurai, kemeja Manly Executive, sepatu Nike, ikat pinggang besar bergambar wajah presiden Amerika, Benjamin Franklin, dan masuk salon untuk menata rambut ala Bob Marley. Sementara Arai membeli jaket kulit, Bulu Cerpelai dan Arloji.
Selain bertemu dengan orang Indonesia, mereka juga bertemu dengan petinggi-petinggi kaum Muslimin di Afghanistan, Afrika. Kemudian bertemu juga dengan
 

All 8 reviews »

Selected pages

Contents

Mozaik I10
1
Juru Pendamai
17
Partner in Crtme
25
Segitiga Tak Mungkin
33
Saputangan
45
Curly
51
John Wayne
57
Paranoia
67
Surat dari Ayahku
137
Paradoks Ketiga
145
Artikulatif
151
Pertaruhan Nama Bangsa
165
Street Performance
173
Mozaik 3140
193
Ujung Dunia
201
Arloji
211

Nyonya Besar
75
Aku dan Anggun C Sasmi
85
The Pathetic Four
95
Katya
105
Paradoks Kedua
111
Gracias Serior
117
Helium
123
Transendental
229
ManaMana Cinta
245
Galliano
255
Tanah yang Telah Dijanjikan MimpiMimpi
261
Indonesia Raya
271
Lorong Waktu
283
Tentang Tetralogi Laskar Pelangi
291

Other editions - View all

Common terms and phrases

About the author (2007)

Under a bright sunny sky, the three-day Byron Bay Writers’ Festival welcomed Andrea Hirata who charmed audiences with his modesty and gracious behavior during two sessions. 

Andrea also attended a special event where he and Tim Baker, an Australian surfing writer, spoke to a gathering of several hundred school children. During one session, Andrea was on a panel with Pulitzer Prize winning journalist from Washington, DC, Katharine Boo, which he said was a great honor.

The August event for the school children was very meaningful to Andrea, the barefooted boy from 
Belitung, as he made mental comparisons with the educational opportunities of these children, compared to what he experienced. 

And now his own life story is about to become even more amazing, as his book Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) is being published around the world in no less than twenty-four countries and in 12 languages. It has caught the eye of some of the world’s top publishing houses, such as Penguin, Random House, Farrar, Straus and Giroux, (New York, US) and many others. Translations are already on sale in Brazil, Taiwan, South Korea and Malaysia. 

All this has come about because of the feeling of appreciation that the young Andrea felt for his teacher, Muslimah. He promised her that he’d write a book for her someday. This was because for him and his school friends, a book was the most valuable thing they could think of. 

Andrea told a story that illustrated this fact. When royalties flowed in for him he decided to give his community a library. He spent a lot of money on books. He left the village headman in charge of administering the library. However, when he came back several months later, all the books were gone. People loved the books, but they had no concept of how a lending library functioned.

“Some of them could not even read, but they just loved to have a book, an object of great value and importance, in their homes. We will restock the library with books and this time it will be run by our own administration,” he laughed.

Andrea told this story as we sat in the coffee shop adjoining a Gold Coast City Library, one of 12 scattered around the city. One of the librarians, Jenneth Duque, showed him around the library, including the new state-of-the-art book sorting machine, for processing returns located in the staff area. As he saw the books being returned through pigeonholes by the borrowers and the computerized conveyor belt sorting them into the correct bin for reshelving, the sight made him laugh and prompted the telling of that story.

Andrea wrote the book for his teacher while in the employ of Telkom, but the completed manuscript was taken from his room, which was located in a Bandung student accommodation community. Whoever took the manuscript knew enough to send it to a publisher and that’s how Andrea, an unhappy postal service worker who had studied economics in Europe and the UK, became the accidental author of the biggest selling novel in Indonesia’s history.

He has since written seven more books.

Fast forward to 2011 and Andrea was in Iowa, the US, where he did a reading of his short story, The Dry Season. He was approached by an independent literary agent, Kathleen Anderson. They talked, but for six months there was no news until an email arrived telling him that one of the best publishers in the US, Farrar, Straus and Giroux, had accepted his book.

Then every week, more publishers said “yes” and now he has 24 contracts from the world’s leading publishers.

Andrea worked with Angie Kilbane of the US on the English translations of Laskar Pelangi and its sequel Sang Pemimpi (The Dreamer). Translators from several other countries have visited his home village in Belitung to do research.

“For a long time I wondered what was the key to the enormous success of my book,” Andrea said.

“I think there’s no single right answer. Perhaps people are fed up with writing focused on urban issues or esca".

Bibliographic information