MENJADI SENIMAN ORGANISASI: Seni Mengelola “Healthcare Industry"

Front Cover
PT. Rayyana Komunikasindo - Business & Economics - 498 pages

Kira-kira, apa jawaban yang diberikan oleh (maaf) orang buta saat meraba gajah? Bisa jadi ia mengatakan bahwa gajah itu adalah cacing. Sebab, yang dia pegang hanya bagian buntutnya. Itu bisa dipahami karena ia tidak mendapatkan gambaran seutuhnya tentang gajah.


Dalam banyak institusi dan organisasi, para pemimpin terkadang “buta” dalam melihat institusinya secara utuh. Fanatisme pada satu aliran dengan mengesampingkan aliran yang lain, disadari ataupun tidak, sering diterapkan oleh seorang manajer.


Keberhasilan metode di satu tempat, tidak otomatis berhasil di tempat lain.  Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Di sinilah dibutuhkan kreativitas pemimpin dalam menjalankan manajemen. Dalam buku ini, penulis mengajak para (calon) manajer menyadari bahwa manajemen adalah suatu keterampilan dan seni, sementara para manajernya adalah seniman.


Disajikan dengan bahasa yang mudah dicerna, dilengkapi dengan sejumlah grafik, tabel dan ilustrasi, serta contoh-contoh fenomena yang ada di sekitar kita, khususnya di dunia pelayanan kesehatan yang membantu pembaca memahami isi tulisan dan makna di baliknya. Cocok untuk dijadikan acuan oleh para praktisi dan akademisi serta mahasiswa di dunia pelayanan kesehatan.

 

What people are saying - Write a review

We haven't found any reviews in the usual places.

Contents

Fenomena Kepemimpinan
367
Kapten Demokratis
385
Pemimpin dan Humor sebagai Alat Ukur
395
Hadapi Perubahan
411
Policy Mapping
423
Ciptakan Safe Community
433
Bekerjalah Ketika Tidak Ada Bencana
449
Bencana Informasi dan Relasi Media
461
Daftar Bacaan
478
Index
487

Common terms and phrases

About the author

ACHMAD SUJUDI Lahir di Bondowoso (Jawa Timur), 11 April 1941. Kedua orangtuanya berprofesi sebagai guru. Menyelesaikan studi kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di kampus yang sama, ia menyelesaikan pendidikan Ahli Bedah. Gelar MHA (Master of Health Administration) ia dapatkan dari New South Wales University, Sydney, Australia.

Karir dan pengalaman kerjanya di bidang kesehatan “paripurna”. Mulai dari dokter umum di Pulau Buru (sebuah kawasan yang menjadi tempat tahanan G-30S/PKI), sebagai ahli bedah di rumah sakit, kepala rumah sakit daerah di Bengkulu maupun rumah sakit pusat di Yogyakarta, dirjen, hingga menjadi Menteri Kesehatan pada dua kabinet.


Sangat aktif terlibat langsung dalam penanggulangan berbagai bencana. Dalam program kabinetnya melahirkan “Deklarasi Makassar, Masyarakat Aman (Safe Community)”, selain Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi dan Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.

Bibliographic information