Ahlussunnah Wal Jamaah: Islam Wasathiyah, Tasamuh, Cinta Damai.

Front Cover
A. Fatih Syuhud, May 1, 2018 - Religion - 470 pages
0 Reviews

 Islam Ahlussunnah Wal Jamaah 

 

What people are saying - Write a review

We haven't found any reviews in the usual places.

Contents

BAB II
68
BAB III
182
BAB IV
220
BAB V
336
Copyright

Common terms and phrases

About the author (2018)

 Seorang penganut Ahlussunnah yang betul-betul memahami esensi dan kriteria Aswaja akan memiliki perilaku yang tidak hanya toleran, menghargai perbedaan dan cinta damai terhadap sesama muslim, tapi juga akan bersikap yang sama pada non-muslim yang tidak berbuat zalim.  Sebaliknya, seorang Ahlussunnah yang bersikap keras pada sesamanya menunjukkan ketidakmampuannya dalam memahami ajaran utama Ahlussunnah wal Jamaah.

Pertama, Ahlussunnah secara fitrah selalu toleran pada perbedaan madzhab akidah. Aqidah disebut sebagai masalah pokok agama (ushuluddin). Sehingga ada anggapan di kalangan sebagian penganut madzhab akidah tertentu, bahwa aqidah mereka adalah satu-satunya aqidah yang benar. Anggapan ini juga tidak tepat. Diterimanya tiga akidah yang berbeda yaitu Asy’ariyah, Maturidiyah dan Ahlul Hadits sebagai bagian dari aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah  membawa konsekuensi bahwa kebenaran dalam konsep aqidah tidaklah tunggal. Karena ketiganya bersifat ijtihadi.

Kedua, toleran pada perbedaan  madzhab fiqih. Fikih termasuk dalam ranah furuiyah (cabang) dalam agama. Dengan adanya empat madzhab fikih yang diakui sebagai bagian dari Ahlussunnah, maka itu bermakna bahwa terkadang ada empat pandangan fikih yang berbeda dalam masalah yang sama.  Dan keempat pandangan yang berbeda itu dihukumi sama-sama benar. Rasulullah bersabda: “Hakim (mujtahid) yang berijtihad dan ijtihadnya benar maka ia mendapat dua pahala. Sedangkan yang berijtihad dan ternyata salah maka mendapat satu pahala.”  

Apabila perbedaan antar-madzhab aqidah atau fikih saja tidak perlu diributkan, apalagi apabila perbedaan itu terjadi dalam satu madzhab yang sama. Perbedaan itu justru menjadi rahmat bagi masyarakat awam untuk diikuti. Seperti kata Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni: "Kesepakatan ulama menjadi hujah yang pasti. Sedangkan perbedaan ulama menjadi rahmat yang luas."

Bibliographic information