Lengger Agamaku

Front Cover
Kalabuku, Jul 1, 2024 - Performing Arts - 247 pages
Otniel Tasman menulis buku ini sebagai autobiografi sekaligus manifesto bagi tubuhnya: tubuh-lengger. Bukan sekadar tarian, bagi Otniel, lengger yang menghidupi dan dihidupi tubuhnya adalah agama: keyakinan dan jalan hidup. Dalam mendedah tubuhnya, Otniel menyingkap sejarah tubuh sejak masa kanak-kanak, pertemuan pertama dengan panggung, intimasi dengan lengger dan indhang, pergulatan dengan panggung, hingga peran tubuh-tubuh lain dalam karya-karya koreografinya. Buku ini juga menunjukkan bagaimana literasi seni pertunjukan tidak hanya berkutat pada wacana-wacana pemanggungan dan proses naik panggung, tetapi menyeruak jauh ke luar, ke ruang-ruang yang selama ini diabaikan atau ditabukan.
 

Common terms and phrases

About the author (2024)

Otniel Tasman, seorang koreografer muda sangat berakar pada tradisi Jawa, terutama Banyumas, kota kelahirannya. Ia menjajaki tradisi lengger Banyumas sebagai bahasa ibunya, yang memberinya pengalaman untuk memahami hidup dan menginspirasinya dalam menciptakan karya tari yang mengeksplorasi identitas gender. Karya-karyanya termasuk Rohwong (2010), Angruwat (2010), Mantra (2012), Looping Back Mantra (2012), Barangan (2013), Lengger Laut (2014), Penantian Dariah (2015), Stand Go Go (2017), No She He or It (2018), dan sebagainya. Sejak 2012, ia mendirikan Otniel Dance Community, serta lulus dari Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 2013. Otniel juga kerap berkolaborasi dengan seniman nasional dan internasional termasuk Ming Wong (Jerman), Daniel Kok (Singapura), Arco Renz (Jerman), Maxine Heppner (Kanada), Hanafi Muhammad dan Garin Nugroho (Indonesia).

Bibliographic information