Lengger AgamakuOtniel Tasman menulis buku ini sebagai autobiografi sekaligus manifesto bagi tubuhnya: tubuh-lengger. Bukan sekadar tarian, bagi Otniel, lengger yang menghidupi dan dihidupi tubuhnya adalah agama: keyakinan dan jalan hidup. Dalam mendedah tubuhnya, Otniel menyingkap sejarah tubuh sejak masa kanak-kanak, pertemuan pertama dengan panggung, intimasi dengan lengger dan indhang, pergulatan dengan panggung, hingga peran tubuh-tubuh lain dalam karya-karya koreografinya. Buku ini juga menunjukkan bagaimana literasi seni pertunjukan tidak hanya berkutat pada wacana-wacana pemanggungan dan proses naik panggung, tetapi menyeruak jauh ke luar, ke ruang-ruang yang selama ini diabaikan atau ditabukan. |
Common terms and phrases
acara agaknya Amerta Amongster Arco artistik bahkan balet Banyumas Banyumasan Barangan barangkali begitu berkarya berkesenian bissu bissu Eka Cablaka cara cukup Daniel Dariah datang Didik Nini Thowok diskusi Djoko Pekik dosen ebeg feminisme Festival gagasan Galigo Garin Garin Nugroho gender gerak Hanafi hingga hip hop identitas indhang ISI Surakarta jadi kali kampus karya Kedunguter Kendati kerap kesenian ketubuhan kolaborasi konsep koreografer kostum lainnya lantas lelaki leng Lengger Laut Mantra maupun Mbah Prapto melakoni memahami memaknai memiliki mengenai menyadari merasa Meski mesti Misalnya momen mungkin musik narasi ngan nguter nyawiji Otniel Otniel Tasman pandemi panggung pasien Penantian Dariah penari lengger pengalaman penonton pentas perempuan pertunjukan praktik proses punya queer performance riset ritual Rohwong ruang saat seakan sebuah sejumlah sekadar sekolah Selain selama sempat seniman sering setiap soal Solo spiritualitas studio tari TBJT teater tengah terkadang tradisi tubuh Tusuk Konde uang usai Voyage of Lengger


