Fly to Fight: Biografi Komodor Muda Agustinus Adisutjipto

Front Cover
PT. Rayyana Komunikasindo, Jun 2, 2014 - Biography & Autobiography - 334 pages

Dalam hidupnya yang relatif pendek, Agustinus Adisutjipto telah menunjukkan sikap kepemimpinan teladan. Ia memiliki karakter seorang pemimpin yang kuat, suatu sifat kepemimpinan yang masih relevan dan dibutuhkan hingga kini. Karena itu, ia tak hanya pantas dikenang sebagai seorang pahlawan, tetapi juga contoh pemimpin yang layak diteladani, dipelajari sikapnya, ditiru semangatnya, dan diresapi karakternya.


Seorang penulis besar Amerika yang juga mantan pemimpin perusahaan General Electric, Jack Welch, mengungkapkan, “Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others.” Sebelum Anda menjadi pemimpin, sukses adalah segalanya untuk mengembangkan diri Anda sendiri. Ketika Anda sudah menjadi seorang pemimpin, sukses adalah segalanya untuk mengembangkan orang lain. Gambaran tersebut merupakan di antara sifat Adisutjipto. Adisutjipto mengembangkan diri dengan cara yang luar biasa. Di tengah sulitnya pendidikan kedirgantaraan yang bisa diikuti oleh anak-anak bumiputra di zaman Belanda, Agustinus Adisutjipto yang bukan anak ningrat dan tak punya privilege (hak istimewa) untuk meraih pendidikan itu, ia tetap bertahan dengan cita-citanya untuk menjadi seorang airman (penerbang).


Rupanya keteguhan itu membuahkan hasil. Dengan cara yang berliku, akhirnya ia pun sukses jadi penerbang pesawat tempur, bahkan menjadi salah satu yang pertama dari kalangan anak-anak bumiputra. Ketika zaman kemerdekaan tiba, dengan visinya yang jauh ke depan Adisutjipto mendirikan sekolah penerbang. Ia sendiri yang menggagas, menyediakan prasarananya, dan mendidik murid-muridnya langsung oleh dirinya. Kelak lembaga pendidikan yang didirikannya itu menjadi Akademi Angkatan Udara (AAU), salah satu candradimuka penerbang-penerbang nasional di bawah naungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). 


Adisutjipto adalah anak pertama dari pasangan Roewidodarmo (seorang guru dan penilik sekolah) dan R. Ng. Latifatun. Ia dilahirkan pada tanggal 4 Juli 1916. Roewidodarmo memberinya nama Adisutjipto karena berharap kelak sang anak akan menjadi orang baik, luhur, dan berguna bagi nusa dan bangsa. Ketika dibaptis, Adisutjipto mendapat nama baptis, Agustinus. Jadilah namanya Agustinus Adisutjipto.


Yang menarik, tak lama setelah Adisutjipto lahir, datanglah eyangnya dari ayah bernama Mbah Wirjo yang berasal dari Wonosari, Magelang. Ia sudah lanjut usia dan merupakan keturunan empu sakti dan pengikut Pangeran Diponegoro dari Manoreh. Setelah bertanya siapa nama bayi itu, Mbah Wirjo memberi tambahan nama yaitu Paraban Palgunadi. Nama itu diambil dari cerita Pewayangan yang menggambarkan bahwa Palgunadi tidak mengikuti perang Bharatayuda, tetapi meninggal dan raganya moksa. Itu ternyata yang dialami Adisutjipto kelak.


Roewidodarmo-Latifatun kemudian memiliki empat anak berikutnya yang kesemuanya laki-laki. Mereka adalah Yohanes Sugondo yang kelak menjadi dokter, Ignatius Adisujoso (kelak bekerja di bank), Aloysius Soedarjono (penerbang), dan Yohanes Sadewo Sarwondo (penerbang). Dari profesi kelima anaknya tampak bahwa Roewidodarmo berhasil sebagai orangtua karena mampu mendidik anak-anaknya hingga meraih tingkat pendidikan terbaik saat itu.


Roewidodarmo mungkin ingin mendidik langsung anak-anaknya. Tetapi karena ia menjadi penilik sekolah (School Opzienier) yang harus berkeliling ke kota-kota pendidikan, maka ketika menginjak usia sekolah Adisutjipto dikirim untuk bersekolah di Hollande Inlandse School (HIS) Katolik Muntilan. Dengan sekolah di HIS Katolik itu sang ayah berharap, di samping mendapatkan pendidikan umum Adisutjipto juga bisa mendapatkan pendidikan keagamaan yang kuat. Hal ini terbukti karena kemudian Adisutjipto dikenal memiliki kepribadian yang kuat, kalem, berbudi baik, taat pada agama dan orang tua, mengayomi adiknya, serta kukuh mempertahankan keinginannya tanpa menyakiti orangtuanya.


Adisutjipto mulai sekolah HIS Katolik Muntilan di pertengahan tahun 1920-an. Setelah lulus pada tahun 1929, ia melanjutkan sekolah ke MULO Katolik St. Louis Ambarawa. Uniknya di sana ia malah satu kelas dengan adiknya, Yohanes Sugondo. Hal ini terjadi karena berkat kepintarannya Sugondo bisa sekolah di ELS (Sekolah Eropa). Sedangkan siswa lulusan ELS bisa langsung masuk MULO tanpa kelas penduhuluan. Akibatnya kakak-beradik ini bisa satu kelas dan tinggal di asrama yang sama.


Mereka lulus pada tahun 1932. Pada saat itu direktur MULO St. Louis menyarankan Roewidodarmo agar menyekolahkan anak-anaknya tersebut ke sekolah kedokteran. Memang lulusan MULO ketika itu diperbolehkan melanjutkan ke sekolah kedokteran. Namun Adisoetjipto tak mau. Mungkin karena pada saat itu ia sudah bercita-cita ingin menjadi penerbang. Karena itu ayahnya kemudian menyekolahkannya ke Algemene Middelbare School (AMS), setingkat SMA saat ini, di Semarang. Sedangkan Sugondo mengikuti kehendak orangtuanya hingga kemudian jadi dokter.


Menjelang lulus AMS sang ayah bertanya pada Adisutjipto mau melanjutkan sekolah kemana. Dengan tegas ia mengatakan ingin melanjutkan sekolah ke Breda, yaitu ke sekolah militer Koninklijke Militaire Academie (KMA). KMA saat itu menjadi pintu masuk untuk jadi penerbang. Karena menurut peraturan seorang penerbang harus mengikuti sekolah militer KMA dulu baru masuk sekolah penerbang, Militaire Luchtvaart, yang juga berada di Breda.


Ayahnya terdiam. Ia tahu cita-cita itu hampir merupakan impian kosong karena untuk bisa masuk ke KMA bagi anak seperti dirinya harus mendapat sponsorship. Sponsor itu bisa didapat dari kalangan priyayi, bupati, sultan, atau kalangan sederajat lainnya.  Tapi Adisutjipto tak punya akses. Akhirnya sang ayah meminta Adisutjipto untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran. Adisutjipto pun kemudian sekolah di Sekolah Kedokteran (Geneeskundige Hogeschool - GHS) di Batavia (Jakarta) mulai tahun 1936.


Di sinilah ia bertemu dengan asisten dosen yang kemudian jadi sahabatnya, Abdulrahman Saleh. Berkat asisten dosen inilah ia berkenalan dengan dunia penerbangan. Saat itu Abdulrahman Saleh sudah aktif di klub penerbang. Ia juga mengajak Adisutjipto masuk klub tersebut. Tak jelas apakah Adisutjipto berhasil masuk anggota klub itu atau tidak. Yang jelas keberadaan klub itu makin mendorong Adisutjipto untuk kembali ke cita-cita lamanya jadi penerbang.


Tak di duga tahun 1937 di Kalijati, Subang, dibuka sekolah penerbang yang kemudian terbuka bagi anak-anak bumiputra pilihan. Kesempatan itu tak disia-siakan Adisutjipto. Ia pun mendaftar dan berhasil lolos seleksi bersama sembilan teman lainnya.


Meski program itu normalnya harus ditempuh selama tiga tahun, ternyata Adisutjipto mampu menyelesaikannya dalam waktu dua tahun sehingga ia lulus pada tahun 1940. Catatan lainnya, dari 10 pemuda pribumi pertama yang sekolah di sana, hanya lima orang yang lulus mendapatkan Klaise Militaire Brevet. Dari lima yang lulus itu hanya dua yang berhasil memperoleh brevet penerbang militer (Groot Militaire Brevet) yaitu Adisutjipto dan Sambujo Hurip. Ia juga mendapat Observer Brevet sehingga sebagai siswa sekolah penerbangan pencapaiannya sangat komplet. Akhirnya cita-cita menjadi penerbang berhasil diraih Agustinus Adisutjipto.


Passion memang telah mengantarkan Adisutjipto berhasil dalam pendidikan penerbangannya. Keberhasilannya itu tak hanya menunjukkan tekad kuatnya tetapi juga didorong dengan kesungguhan menjalaninya. Tak heran setelah lulus dari sana ia diangkat menjadi Vaandrig Kortverband Vlieger/Waarnemer (Letnan Ajudan/Pengawas), satu pangkat yang cukup tinggi bagi orang Indonesia. Ia menjadi ajudan Kapten Clason, seorang pejabat penting di Militaire Luchtvaart. Ia ditempatkan di Yogyakarta, di Pangkalan Udara Maguwo. Sebagai pengawas ia menerbangkan pesawat Curtis Falcon.


Mempelajari riwayat Agustinus Adisutjipto akan mendapat gambara bahwa  ia adalah sosok yang pantang menyerah. Dalam memperjuangkan keinginan luhurnya untuk jadi penerbang ia tak putus harapan dan terhambat oleh sistem pendidikan yang tidak menguntungkanya. Ia tetap bergairah mengejar cita-citanya. Jiwa seperti ini penting dan ternyata terus berlanjut hingga ia menjadi pemimpin di Angkatan Udara. Adisoetjipto tak pernah kehilangan cara untuk tetap mencari jalan keluar di saat suasana sulit. Ia tegar, yakin, kreatif mencari jalan keluar, dan berani menjalankan misinya meski itu harus mengorbankan jiwanya. Seperti itulah jiwa kepemimpinan Adisoetjipto yang ditunjukkan pada para penerusnya.


Melalui buku ini, akan didapatkan banyak kisah dan pelajaran penting tentang perjalanan hidup dari seorang bernama Agustinus Adisutjipto. Pahlawan Nasional ini menerakan banyak fondasi penting dalam dunia penerbangan Indonesia. Penulis dan tim editor berusaha menelusurinya melalui wawancara keluarga, kerabat, dan studi pustaka. Banyak pihak yang menganggap Agustinus Adisutjipto ‘hanya’ pahlawan TNI Angkatan Udara. Namun, melalui penelusuran dan mempelajari perjalanan hidupnya, ia adalah pahlawan untuk semua pihak. Ia juga pahlawan bagi kalangan masyarakat biasa karena berhasil “mengalahkan” sistem pendidikan, khususnya sekolah penerbang, yang ketat dan dibatasi sistem sosial yang memihak kaum ningrat di zaman Belanda. Karena itu, mempelajari sifat dan karakternya seperti menemukan harta karun.


 

What people are saying - Write a review

We haven't found any reviews in the usual places.

Common terms and phrases

About the author (2014)

Yos Bintoro, Pr. Perwira menengah TNI Angkatan Udara ini sangat concern pada bidang Operasi Militer Selain Perang (Military Operation Other Than War/MOOTW), Peace Keeping Operation, dan Peace and Conflict Resolution. Ia juga sangat giat di bidang penanaman nilai-nilai kebangsaan, ketahanan nasional, pendidikan multikultural dalam berbagai forum dan kalangan lintas iman.

Lahir di Jakarta pada 30 November 1967. Ditahbiskan menjadi imam dioses Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) tahun 1996 di Jakarta dan mendapat penugasan oleh Uskup untuk menjalani pendidikan Perwira Karier di Akademi Militer. Pernah menjabat sebagai Perwira Rohani Katolik, Staf Khusus Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU), dan melaksanakan Satgas Kemanusiaan (Civic Mission Task Force) di Timor Timur (1998-1999). Kini Ia menjadi Dosen Gol V di AAU.

Pendidikan formal dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (1993), dan S2 Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik UGM Yogyakarta (2014). Pendidikan kemiliteran, di antaranya Sekolah Komando Kesatuan TNI Angkatan Udara (Sekkau) tahun 2006 dan Kursus Staf Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) tahun 2014 .

Ia aktif sebagai Pastor Paroki Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto, Yogyakarta.


Bibliographic information