Ringsek: Sekumpulan Naskah Teater

Front Cover
Kalabuku, Apr 1, 2024 - Performing Arts - 112 pages
Dalam dunia teater kontemporer di Bali—bahkan Indonesia—Nanoq da Kansas bukan sekadar seniman, melainkan juga seorang pejuang teater. Bersama Teater Kene pada dekade 1980-an, serta Bali Eksperimental Teater (BET) sejak dekade 1990-an, Nanoq menggerakkan estetika teaternya yang cukup unik dari Jembrana, sebuah kabupaten di ujung barat Bali, yang—secara sentimen kultural—sering dianggap sebagai “bukan Bali”. Bersama BET pula, hingga kini, Nanoq bukan hanya mencipta dan mengembangkan karya-karya teaternya, melainkan juga melahirkan dan menumbuhkan persona-persona muda pegiat teater kontemporer Bali. Tujuh naskah teater karyanya dalam buku ini—“Ringsek”, “Min”, “Tuberpakakilu”, “Marilah Kita Terus Tersenyum”, “Fragmen Sebuah Halte”, “Rezim”, dan “Grubug”—sangat sahih untuk diposisikan sebagai salah satu penanda penting bagi sejarah dan kecenderungan estetis teater kontemporer di Bali sejak 1980-an hingga kini. Naskah-naskah teaternya sering kali berupa oplosan tekstual. Dengan teropong individual, terutama pada masa awal kepenulisannya, Nanoq mengoplos bahasa dari “masyarakat udik” serta cara pandang khas mereka terhadap lingkungan dan narasi sosiopolitik yang melingkupi mereka.
 

Selected pages

Common terms and phrases

About the author (2024)

Nanoq da Kansas bernama asli Wayan Udiana. Semasih remaja, terutama ketika memutuskan untuk berhenti bersekolah saat kelas dua SMA, ia langsung belajar menulis puisi, menulis cerpen, dan berteater secara autodidak. Ketiga kesenian ini lalu membawanya ke pergaulan yang lebih luas di kalangan pelaku sastra dan teater di Bali.

Pada 1986, bersama Dewa Made Dwi Dharma Putra (Dodek) dan Yusac Alfon Raemonza (almarhum), Nanoq mendirikan Teater Kene di Negara, Bali. Setelah berjalan lima tahun, Teater Kene terpaksa berhenti berkegiatan karena anggotanya banyak yang menyebar ke luar daerah.


Pada 1993, Nanoq mendirikan Bali Eksperimental Teater (BET) dengan “meminjam” anggota dari beberapa sanggar yang ada di Kota Negara, antara lain Sanggar Susur, Sanggar Hitam Putih, Sanggar Kenari Loloan Barat, serta beberapa anggota Teater Kene yang masih ada saat itu.

Bersama BET inilah kemudian Nanoq menggali, mempelajari dan mengembangkan “estetikanya tersendiri” dalam berteater hingga sekarang.

Bibliographic information