BEYOND THE LIMITS AND BRAVERY: Menembus Batas Profesi Dokter dengan Keberanian dan Ketekunan

Front Cover
PT. Rayyana Komunikasindo, 2018 - Biography & Autobiography - 415 pages

Tak terasa, buku “Beyond The Limits” sudah lima tahun lalu Penulis luncurkan. Dalam kurun waktu lima tahun tersebut (2013-2018) sudah banyak penambahan pencapaian menyangkut Radjak Group. Pada tahun 2013 ketika buku tersebut diluncurkan, Penulis masih sepenuhnya mengelolanya. Sedangkan sekarang, giliran anak-anak Penulis yang mengelolanya karena estafet kepemimpinan grup bisnis keluarga ini sudah berjalan dengan baik.


Lima tahun lalu Penulis ingin bercerita melalui buku bagaimana Penulis mengatasi hambatan dan kesulitan untuk kemudian mengubahnya menjadi peluang. Penulis percaya bahwa kehidupan itu seperti seseorang yang tengah mendaki gunung. Masing-masing orang punya jalan tempuhnya sendiri-sendiri yang harus dilalui dengan melewati jalan yang dibuatnya. Bagaimana kita menghadapi hambatan itu adalah bagaimana kita mengalahkannya atau menembusnya. Oleh karena itu judul bukunya “Beyond The Limits”.


Setelah lima tahun berlalu, banyak hal yang ingin Penulis update sekaligus cetak ulang “Beyond The Limits”. Ternyata update-nya lumayan banyak. Sehubungan dengan itu, Penulis terpikirkan untuk mengubah judulnya menjadi “Delivering Braveness”. Ini sebenarnya sebuah pesan karena sepanjang kehidupan Penulis sejak merintis hingga mengembangkan Radjak Group, keberanian mengeksekusi peluang cukup besar mewarnai keberhasilan Penulis. Saat ini Penulis menemukan momentum untuk mengingatkan soal keberanian (braveness) itu pada diri Penulis sendiri dan anak-anak Penulis. Bagi Penulis tantangan keberanian itu adalah beranikah Penulis melepas pengelolaan Radjak Group pada anak-anak Penulis. Bagi anak-anak Penulis, beranikah mereka menerima estafet tanggung jawab tersebut untuk mengelola Radjak Group. Itulah alasannya kenapa judulnya “Delivering Braveness.”


Kendati begitu buku ini masih 80% merupakan “Beyond The Limits”. Oleh karena itu kata sambutan dari tiga sahabat Penulis (Tanri Abeng, Salim Said, dan almarhum Samsi Jacobalis) di buku “Beyond The Limits” masih Penulis sertakan di buku ini karena kaitan sejarah dan pesannya yang mendalam.


Kembali Penulis kemukakan bahwa ide awal membuat buku ini datang dari anak-anak Penulis. Mereka ingin memberikan hadiah berupa kado khusus di hari ulang tahun yang khusus pula, 70 tahun, 13 September 1943 2013. Penulis terharu menemukan niat tulus mereka. Memang, bagi orangtua, hadiah terbaik dari anaknya bukanlah pemberian yang sifatnya duniawi semacam pakaian bagus, perhiasan mahal, dan sejenisnya. Anak-anak yang patuh, sukses mencapai cita-cita, dan mampu menjalankan amanah orangtua adalah hadiah terindah dan tak ternilai yang diterima oleh orangtua. Dan, tentu hadiah buku adalah sesuatu yang spesial. Maknanya luas. Manfaatnya besar. Oleh karena itu, ketika mereka mengatakan Penulis harus menulis buku otobiografi, atau semi-otobiografi, Penulis pun setuju.


Sedangkan update buku “Beyond The Limit” dilakukan sebagai kado dari anak-anak untuk ulang tahun Penulis yang ke-75 pada 13 September 2018. Penulis bersyukur bisa mencapai usia 75 tahun.


Penulis tidak pernah menganggap diri Penulis ini sukses luar biasa. Namun, pencapaian yang sudah Penulis raih juga tak bisa dianggap sebagai bentuk perjuangan yang biasa-biasa saja, setidaknya jika itu dipandang dari pihak Penulis sebagai pelakunya. Penulis berjuang begitu berat, melelahkan, memakan waktu yang panjang, kadang-kadang menemukan titik nadir yang membuat Penulis menangis, putus asa, dan sepertinya hidup ini akan jatuh pada titik paling rendah. Di sisi lain, Penulis sering menemukan kegembiraan tiada tara karena perjuangan berat Penulis berhasil mencapai apa yang diinginkan.


Penulis kira, hal-hal semacam itu memiliki bahan pembelajaran yang pantas Penulis bagi kepada anak, keluarga, relasi, mahasiswa-mahasiswa, dan juga kepada banyak orang. Karena langsung ataupun tidak, kita belajar dari kehidupan orang lain. Ketika melihat orang lain sukses, kita meniru mereka dengan cara kita. Ketika mereka gagal, kita menemukan cara untuk menghindari cara itu agar tidak mengalami kegagalan serupa. Orang lain adalah pembelajaran bagi kita. Jika mereka semua membuat buku, mereka menyumbang bahan pembelajaran yang sama. Tentu saja ada orang yang memiliki bahan pembelajaran yang penuh, ada yang hanya poin-poin tertentu.


Buku ini Penulis tulis sebenarnya untuk sharing pengalaman hidup, syukur-syukur menjadi bahan pembelajaran, terutama bagi anak-cucu dan keturunan Penulis. Bahwa ayahnya dulu pernah menjalani kehidupan seperti itu. Mungkin masih cocok diterapkan di kehidupan mereka saat ini, mungkin juga tidak. Penulis tak mau menggurui. Penulis bahkan tak mau menunjukkan poin-poin mana yang harus atau pantas ditiru. Penulis alirkan saja apa adanya karena buku ini sifatnya semi-otobiografi. Tak menarik jika isinya hanya poin-poin.


Keberhasilan Penulis dalam hidup ini tak datang dengan sendirinya. Penulis tak mungkin mampu mendirikan kelompok bisnis yang bernama Radjak Group ini tanpa bantuan banyak pihak. Maka, menjadi kewajiban Penulis untuk berterima kasih kepada mereka.

 

What people are saying - Write a review

We haven't found any reviews in the usual places.

Contents

MASA KECIL SEKOLAH DAN AKTIVIS
71
Anak Senen
73
Dua Sekolah Rakyat
83
Mengikuti Program AFS
91
Bertemu Presiden John F Kennedy
101
Belajar Dari Seberang I
117
Sibuk Di Luar Kampus Tapi Lulus Tepat Waktu
129
Risiko Mahasiswa Aktivis
143
MENGEMBANGKAN BISNIS DAN PENDIDIKAN
257
Dari Koran Sampai Tanah
259
Miniatur Penanggulangan Banjir Jakarta di Cipayung
271
Rintisan Pertama Jadi Pengusaha
281
Ikut Merintis Cancer Center
293
Rumah Sakit Pertama Meskipun Kecil Tapi Modern
303
Belajar Ngutang Pada Bank
313
Berbakti Melalui Rumah Sakit
325

MH Thamrin Menjalani Profesi dan Organisasi Profesi
167
Menolak Politik Karena Yakin Masa Depan Lebih Baik
169
Sebuah Pelajaran Bernama RSUD Kabupetan Bekasi
177
Mulai Memikirkan Disaster
189
GaraGara Radio Amatir
201
Berkantor di Jenewa
213
ICTYang Tak Bisa Ditawar
223
Undangan Selepas Pensiun
233
Tak Punya ApaApa Tak Berarti Tak Bisa ApaApa
249
Merintis Rumah Sakit Internasional
333
Mendirikan Perusahaan Penunjang
343
Hampir Menjadi Bankir
355
Membangun Universitas Thamrin
365
Dua Kali Calon Gubernur
375
Menahan Laju Banjir Jakarta
383
Belajar Dari Seberang II
397
Daftar Bacaan
407
Copyright

Common terms and phrases

About the author (2018)

Dr. H. Abdul Radjak, DSOG adalah anak ke-10 dari 11 bersaudara, dari pasangan H. Abdul Wahid bin Djimun dan ibu Hj. Asemah binti Aseni. Lahir di Jakarta pada 13 September 1943 meninggal di RS Dr. Abdul Radjak Salemba, Jakarta Pusat, pada 22 Juni 2019, jam 04.36 WIB, dalam usia 76 tahun.


Almarhum berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang mandor derek di sebuah perusahaan derek pelabuhan di Tanjung Priok. Meski dengan keterbatasan, almarhum bisa sekolah hingga menjadi dokter. Sejak kecil jiwa kepemimpinannya sudah muncul bahkan memiliki tingkat solidaritas yang tinggi juga keberanian. Sifat-sifat itulah yang membawanya kelak menjadi orang yang sukses.


Keikutsertaannya dalam American Field Service (AFS) & Exchange Program pada tahun 1962 menjadi salah satu batu pijakannya untuk berpikir lebih terbuka dan maju. Setelah lulus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1969), almarhum sempat berkarier menjadi PNS sambil mengembangkan klinik bersama istrinya, Dr. Sudinaryati, MARS, yang juga dokter.


Klinik pertamanya, Rumah Bersalin Tegalan, diresmikan pada tahun 1976 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Klinik inilah cikal bakal bisnisnya yang kini berkembang menjadi Abdul Radjak Group. Abdul Radjak Group terdiri dari jaringan rumah sakit (RS MH Thamrin/RS Dr. Abdul Radjak), klinik, perusahaan alat kesehatan, yayasan pendidikan (Universitas MH Thamrin), Passadena Village, dan sebagainya.


Dr. H. Abdul Radjak, DSOG selain aktif di dunia kesehatan dan bisnis, juga menjadi tokoh nasional dan internasional. Pernah menjadi konsultan WHO dan berkantor di Jenewa, Swiss, pada tahun 1986 dan menggagas telemedicine untuk negara berkembang, President of the 11th APCEDM (Asia Pacific Conference on Emergency and Disaster Medicine) pada tahun 2012, dan menjadi pembicara di forum nasional da internasional.


Selain itu, meski tidak begitu tertarik pada dunia politik, namun sebagai anak Betawi, Dr. H. Abdul Radjak, DSOG, sempat mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI pada tahun 2002. Salah satu gagasannya membuat danau buatan sebagai danau resapan untuk menanggulangi banjir Jakarta.


Dengan banyaknya peran tersebut, almarhum adalah salah satu tokoh di negeri ini yang memiliki kepedulian yang besar untuk mengembangkan Tanah Air dalam bidang yang dikuasainya. Semoga gagasan-gagasannya dan segala hal yang pernah dikerjakannya memberikan manfaat bagi banyak orang.



Riwayat pendidikan:


SR Kemayoran dan SR Tanah Tinggi, Jakarta, lulus tahun 1956

SMP Negeri Jakarta, 1959

SMA Negeri Jakarta, 1962

SMA Noblesville, Indiana, USA, 1962-1963

Fakultas Kedokteran UI, 1963-1969

Dokter AHli Kebidanan – Penyakit Kandungan FK-UI RSCM Jakarta, 1970-1975

Hospital Management Training di Jakarta, 1980

Course on Fertility Study di Johns Hopkins Medical School, USA, 1982.

Bibliographic information