Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta

Front Cover
Ibed Surgana Yuga
Kalabuku, Jun 1, 2018 - Performing Arts - 239 pages
Semacam panggung bagi para aktor teater (di dan luar) Jogja, buku ini berbicara dan berbagi tentang konsep, metode, serta proses keaktoran mereka melalui tulisan. Keberadaan kritik dan publikasi tentang teater di berbagai media, yang sangat jarang membahas sisi keaktoran, mesti diimbangi dengan publikasi catatan-catatan yang ditulis oleh para aktor sendiri. Adalah urgen bagi aktor untuk mengungkapkan, mendefinisikan sekaligus mengarsipkan konsep, metode serta proses keaktorannya dalam bentuk tulisan. Kerja penulisan semacam yang dilakukan para aktor dalam buku ini adalah sangat penting keberadaannya di tengah proses produksi pengetahuan dunia teater di Indonesia yang cenderung tersendat-sendat. Buku ini memuat catatan-catatan keaktoran dari 26 aktor.
 

Selected pages

Common terms and phrases

About the author (2018)

Ibed S. Yuga adalah penulis, editor, dan sutradara teater yang memiliki ketertarikan terhadap persilangan teks, wacana keruangan, dan relasi ketubuhan. Ia memulai kerja teaternya di Bali Eksperimental Teater (2002). Pada 2005, Ibed mendirikan Seni Teku di Yogyakarta serta menjadi sutradara dan penulis lakon pada komunitas teater tersebut sampai 2011. Bersama Seni Teku, ia dianugerahi Penghargaan Umar Kayam dalam Festival Teater Jogja (2009). Ibed menginisiasi Kalanari Theatre Movement (2012), sebuah lembaga pergerakan budaya melalui teater, dan menjadi sutradara dan penulis lakon di sana hingga kini. Pada 2011, Ibed menginisiasi Kalabuku, sebuah gerakan literasi teater dan seni pertunjukan melalui penerbitan buku-buku bersubjek teater dan pertunjukan serta platform kurasi dan laboratorium penulisan lakon teater.

Sebagai penulis lakon teater, Ibed pernah menerima penghargaan sayembara penulisan lakon teater dari Federasi Teater Indonesia (2008 & 2011); Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017); Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2021); dan Rawayan Award (2022). Buku kumpulan lakon teaternya yang sudah terbit berjudul Kintir (Yogyakarta, 2011) dan Janger Merah (Yogyakarta, 2021). Beberapa karya lakonnya juga terkumpul dalam beberapa buku bersama, seperti Perbuatan Serong (Yogyakarta, 2011), Di Luar 5 Orang Aktor (Yogyakarta, 2013), 10 Lakon Teater Indonesia 2017 (Jakarta, 2017), New Indonesian Plays (London, 2019), dan States of Crisis (Yogyakarta, 2020). Ibed juga menjadi partisipan dalam Asian Playwrights Meeting 2019 di Yogyakarta.

Sebagai sutradara teater, karya-karya pertunjukannya lebih banyak berupa site-specific theatre serta pertunjukan-pertunjukan yang meneguhkan/mempertanyakan kembali relasi ruang, teks, dan tubuh. Ibed terpilih sebagai salah satu sutradara muda Asia untuk melakukan kerja kolaborasi dan mempresentasikan karyanya dalam Asian Performing Arts Festival di Tokyo, 2015. Selain menyutradarai dan menulis lakon, Ibed juga merupakan penggiat teater pemberdayaan dan telah bekerja mendampingi masyarakat perdesaan di beberapa daerah di Indonesia. Di samping beberapa daerah di Indonesia, Ibed juga telah menggelar karya-karyanya, memberikan workshop, dan berkolaborasi di beberapa negara, seperti Irlandia, Singapura, Jepang, Malaysia, Inggris, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jerman. Kini, Ibed berumah ulang-alik di Jogja­–Jembrana.

Bibliographic information