Membentuk Manusia Perang Pikiran, Volume 1

Front Cover
PT. Rayyana Komunikasindo, Oct 29, 2022 - Political Science - 196 pages
0 Reviews
Reviews aren't verified, but Google checks for and removes fake content when it's identified

Di masa lalu, pekerjaan intelijen banyak dilakukan untuk mencuri informasi dari musuh atau pesaing. Selama Perang Dingin pasca-Perang Dunia II, kegiatan intelijen antara Barat yang dimotori AS dan Timur yang dimotori Uni Soviet, pekerjaan intelijen banyak diasosiasikan sebagai kegiatan mencuri informasi tentang rencana rahasia musuh. Kedua belah pihak berargumentasi bahwa kegiatan itu untuk mengatasi serangan kejutan dari musuh. Setelah Perang Dingin berlalu, negara-negara di dunia menghadapi musuh berbeda yakni para non-state actor seperti teroris, kelompok kriminal dunia, kaum fanatik, dan berkembangnya jenis persenjataan baru yang begitu cepat. Ini yang kini memunculkan musuh-musuh invisible dengan tantangan yang berbeda. 


Perkembangan teknologi yang disruptif mengubah tatanan intelijen. Di masa lalu, seorang intelijen tidak pernah muncul identitasnya. Gadget cangih menjadi senjatanya. Mereka selalu mengandalkan penipuan identitas untuk melindungi pekerjaannya. Sepanjang musuh tidak tahu siapa intelijen yang sedang bekerja, maka hasil pekerjaannya terjaga dengan baik. 


Era kini, musuh dan kawan datang di ruangan yang sama, mungkin diketahui identitasnya, menggunakan teknologi dan perangkat yang sama, dan mungkin mengincar informasi yang sama, namun masing-masing tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ia akan menggunakan informasi yang sama dan mengolahnya berdasarkan pikirannya bukan mengikuti saran algoritma mesin. Dalam hal ini, kecanggihan mesin (gadget) menjadi alat bukan penentu keputusan, karena keputusan berada dalam pikiran. 


Kondisi inilah yang oleh penulis buku ini disebut sebagai “perang pikir”. Buku ini mengupas bagaimana keadaan di masa depan tentang manusia yang menggunakan pikirannya dengan bantuan teknologi Industry 4.0 (algoritma, artificial intelligence, augmented reality, robot, Internet of Things, dll), namun keputusannya tetap menggunakan sisi akal sehat, kecerdasan, nurani, kepekaan dan militansi untuk tujuan yang besar. Bukan menyerahkan keputusannya pada hasil olahan mesin atau teknologi semata.


Ini tantangan terbesar membangun karakter manusia yang berada dalam medan perang pikir untuk menjadi pemenang sejati.


***

 

What people are saying - Write a review

We haven't found any reviews in the usual places.

Common terms and phrases

About the author (2022)

Jenderal Polisi (P) Prof. Dr. Budi Gunawan, S.H., M.Si. lahir di Solo, 11 Desember 1959. Ia meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Trisakti dengan predikat summa cum laude pada 2018. Setelah lulus dari pendidikan menengah, ia melanjutkan pendidikan di Akabri Bagian Kepolisian dan lulus pada 1983. Pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian diikutinya pada 1986. Pada 1998, ia mengikuti pendidikan pengembangan di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (lulus peringkat pertama). Selanjutnya, ia mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional pada 2005 (lulus peringkat pertama). Beberapa pendidikan kejuruan juga pernah ia ikuti, seperti Pendidikan Brigade Mobil, Pendidikan Lanjutan Registrasi dan Identifikasi Lalu Lintas, Pendidikan Perwira Senior Penyidik Reserse, dan Kursus Jabatan Kapolres.

Sepanjang kariernya di Polri, Budi Gunawan selalu menempati posisi strategis. Di antaranya, Kasat Lantas Polwiltabes Bandung, Kapolresta Bogor, Ajudan Wakil Presiden Republik Indonesia, Ajudan Presiden Republik Indonesia, Kepala Biro Pembinaan Karier Deputi Sumber Daya Manusia Polri, Kepala Sekolah Lanjutan Perwira Lemdiklat Polri, Kapolda Jambi, Kadiv Pembinaan Hukum Polri, Kadiv Profesi dan Pengamanan Polri, Kapolda Bali, Kepala Lembaga Pendidikan Polri, dan Wakil Kapolri. Posisi strategis yang masih dijabat hingga saat ini adalah Kepala Badan Intelijen Negara, sekaligus Guru Besar dalam Bidang Ilmu Intelijen Studi Strategis Kajian Keamanan Nasional Bidang Siber di Sekolah Tinggi Intelijen Negara.

Budi Gunawan menerima 22 tanda jasa, yaitu: Satya Lencana (SL) Bintang Bhayangkara Pratama, SL Bintang Bhayangkara Nararya, SL Kesetiaan 24 Tahun, SL Kesetiaan 16 Tahun, SL Kesetiaan 8 Tahun, SL Jana Utama, SL Ksatria Bhayangkara, SL Karya Bhakti, SL Bhakti Pendidikan, SL Bhakti Bhuana, SL Bhakti Nusa, SL Dharma Nusa, SL Operasi Kepolisian, SL Bhakti Purna, SL Bhakti Sosial, SL Wira Siaga, SL Wirakarya, SL GOM VII, SL GOM IX, SL Dwidya Sistha, SL Kesetiaan Tamtama, dan Seroja.

Buku-buku karya Budi Gunawan yang telah diterbitkan, di antaranya: Kiat Sukses Polisi Masa Depan (2006); Koloni Keadilan (kumpulan analisis di majalah Forum) (2006); Terorisme: Mitos dan Konspirasi (2006); Kebohongan di Dunia Maya (2018); Demokrasi di Era Post Truth (2021), dan Medsos di Antara Dua Kutub (2021). Sejumlah tulisannya juga dimuat di beberapa majalah dan surat kabar, seperti Gatra, Forum, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Kompas, dan Sindo.


Brigadir Jenderal Polisi Dr. Barito Mulyo Ratmono, S.I.K., M.Si.. lahir di Jakarta, 18 November 1974, merupakan putra pertama dari pasangan H. Mulyono dan Hj. Ratna. Ia menikah dengan Hening Fitricia, S.E., M.M. dan dikaruniai dua orang anak yaitu Aurelia Putri Rifito dan Fathan Putra Rifito.

Barito menempuh pendidikan dasar dan menengah pertama di Jakarta, kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Taruna Nusantara Magelang (Angkatan I). Pendidikan umum tertinggi ditempuhnya di Program Studi Doktoral Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta pada 2013, lulus dengan predikat cum laude. Pendidikan kepolisian yang diikuti Barito meliputi: Akpol (lulus 1996) dengan nama Batalyon Wira Satya; PTIK (lulus 2005); Sespimmen (lulus 2011); dan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I Lembaga Administrasi Negara (lulus 2020).

Jabatan yang pernah diemban Barito, di antaranya: Kapolsek Selektif Purwokerto dan Kasat Intelkam Polres Cilacap Polda Jawa Tengah, Kasat Intelkam Polres Singkawang Polda Kalimantan Barat, Kasubag Evaluasi dan Validasi Akpol, Kapolres Konawe Polda Sulawesi Tenggara, dan Wakil Direktur Intelkam Polda Jawa Barat. Kini ia menjabat Wakil Gubernur Sekolah Tinggi Intelijen Negara.

Berbagai penugasan ke luar negeri telah dilaksanakannya, seperti untuk melakukan penelitian di bidang kebijakan dan pendidikan, serta dalam rangka perundingan kenegaraan. Di antaranya, penugasan ke Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Amerika Serikat, Cina, dan Rusia.

Penelitian yang telah dihasilkannya yaitu: (1) Analisis Strategis terhadap Ancaman Ideologi Pancasila; (2) Cyber-hoaxes dan Implikasinya bagi Stabilitas Keamanan Nasional: Analisis Politik Ancaman di Ruang Siber dan Potensi Disintegrasi Bangsa; (3) Implementasi Kebijakan Polmas; (4) Human Trafficking di Perbatasan Entikong, Kalimantan Barat; (5) Penerimaan Khalayak terhadap Berita Hoaks pada Media Sosial dalam Era Demokrasi Digital; (6) Pengaruh Media Sosial terhadap Konflik Sosial pada Pemilihan Umum 2019; (7) Media Baru dan Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia; dan (8) Analisis Berita Hoaks Obat dan Vaksin Covid-19 serta Implikasinya terhadap Perilaku Masyarakat dan Lainnya.

Barito telah menulis beberapa buku, yaitu: Membaca Ulang Kultur Polri: Sebuah Refleksi Kritis dari Dalam (2014); Pancasila dalam Pusaran Arus Gerakan Ideologi Global: Analisis Strategis terhadap Ideologi Pancasila dalam Dinamika Politik Indonesia (2017); Cyber-hoaxes dan Implikasinya bagi Stabilitas Keamanan Nasional: Analisis Politik Ancaman di Ruang Siber dan Potensi Disintegrasi Bangsa (2018); Kebohongan di Dunia Maya (2018); Demokrasi di Era Post Truth (2021), dan Medsos di Antara Dua Kutub (2021).


Bibliographic information