Hadir Untuk Perdamaian Dari Poso hingga Afghanistan: Sebuah Memoar

Front Cover
PT. Rayyana Komunikasindo, Dec 17, 2020 - Political Science - 538 pages

Siapa mengira Amerika Serikat yang selama puluhan bahkan seratus tahun lebih menjadi ‘kiblatnya’ demokrasi menjadi paradoks sebagai negara yang ‘anti demokrasi’, bahkan muncul konflik, perebutan kekuasaan, diskriminasi dan korban nyawa. Baik dalam proses pemerintahan dibawah pimpinan Donald Trump, maupun saat proses pemilu dan peralihan kekuasaan dari Trump ke Biden.

 

Fenomena yang hampir sama, bahkan belum kunjung usai, konflik terpendam, maupun konflik terbuka yang terjadi di negeri ini. Usai, konflik pilkada Jakarta, berlanjut ke Pemilihan Presiden, bahkan ketika dua kandidat yang bertarung Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan Prabowo Sandiaga Uno sudah ‘akur’, berada dalam perahu yang sama di pemerintahan, para pendukung di bawah seakan belum selesai dalam konflik dengan judul, tema, dan pemicu yang beragam. 

 

Ini menujukkan bahwa sejatinya konflik memang ‘melekat’ pada manusia, bangsa, agama, lingkungan, interaksi, politik, dan lain sebagainya. Disisi lain, sejarah mencatat konflik juga akhirnya bisa diselesaikan dengan cara yang terhormat. Buku ini mengisahkan pengalaman hidup yang dialami oleh penulisnya dalam terlibat atau dilibatkan, hadir atau dihadirkan untuk perdamaian, baik pada level kabupaten di Poso, hingga level internasional di Afganistan. Memang, tidak semuanya berakhir dengan ‘indah’, karena dalam buku ini juga dikisahkan dengan pendekatan personal penulis, mengapa konflik yang satu selesai dan yang lain ‘menggantung’.

 

Dalam kata pengantar buku ini Jusuf Kalla (JK) mengatakan Perdamaian merupakan kebutuhan mendasar bagi peradaban. Kita mempelajari itu dari sejarah. Tanpa perdamaian perjalanan sebuah bangsa dan negara akan pincang. Perdagangan terganggu, produktivitas merosot, perekonimian macet. Dalam keadaan yang demikian ‘perut lapar’ akan membuat kemarahan mudah tersulut. Kemakmuran yang menjadi tujuan bernegara, mustahil tercapai di tengah suasana konflik. Dan dalam pandangan JK, dalam buku ini esensinya disebutkan bahwa perdamaian dikemukakan secara terbuka maupun tersirat dimana penulis buku ini (Dr. Farid) tidak melihat perdamaian sebagai salah satu opsi, melainkan satu-satunya pilihan bila sebuah negara atau bangsa ingin maju.

 

Lebih lanjut JK juga mengatakan, seperti juga sudah banyak dikisahkan dalam berbagai pemberitaan, Dr. Farid menjadi salah seorang yang dapat saya andalkan dalam berbagai penugasan krusial menangani konflik, mulai dari Poso, Ambon dan Aceh. Di setiap perundingan damai, peranan Dr. Farid tidak di belakang meja, melainkan terjun langsung untuk memastikan bahwa para pihak yang berkonflik datang ke meja perundingan dan memberi keyakinan bahwa perundingan akan berjalan baik. Dia pelobi hebat.

 

Buku ini, pada walanya ditulis dan diterbitkan atas inisiatif saudara, keluarga teman, dan sahabat Dr. Farid dalam menyambut ulang tahunnya yang ke-70 pada 9 Maret 2020, namun karena pandemi Covid-19, acara itu ditunda. Secara bersaman, ketika almamaternya, Unhas membuka Pusat Studi Resolusi Konflik dan Demokrasi, maka oleh Unhas ini dijadikan momentum untuk diluncurkan. 

 

***

 

Perdamaian merupakan kebutuhan mendasar bagi peradaban. Sejarah telah membuktikan hal itu. Tanpa perdamaian, perjalanan sebuah bangsa dan negara akan pincang. Perdagangan terganggu, produktivitas merosot, perekonomian macet. Dalam keadaan yang demikian, “perut lapar” akan membuat kemarahan mudah tersulut. Kemakmuran yang menjadi tujuan bernegara, mustahil tercapai di tengah suasana konflik.

 

Analisis itu selalu disampaikan oleh Bapak Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI 2004–2009 & 2014–2019). Beliau selalu menekankan hal itu kepada tim-nya, di mana penulis buku ini, dr. Farid Husain, menjadi tim inti dalam menjalankan tugas perdamaian, mulai dari  Poso hingga terlibat dalam upaya proses perdamaian di Afghanistan. Boleh dikatakan, begitu paripurna tugas dr. Farid Husain hadir dalam perdamaian. Mulai dari tingkat kabupaten di Poso, provinsi di Maluku, nasional di Aceh dan Papua, regional (ASEAN) di Thailand Selatan, hingga global di Afghanistan. Pak JK selalu menegaskan betapa esensialnya perdamaian bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam lingkup yang kecil, hingga global.

 

Dalam buku ini, Farid mengungkapkan baik secara terbuka maupun secara tersirat esensi perdamaian. Baginya, perdamaian bukan sebagai salah satu opsi, melainkan satu-satunya pilihan apabila sebuah daerah atau negara dan bangsa ingin maju. 

 

Sebagian dari isi buku ini pernah hadir pada buku karya Farid Husain sebelumnya, tetapi sebagiannya lagi ada materi baru yang genuine. Hadir lagi karena memang ada permintaan dari banyak kalangan, di samping untuk membentuk benang merah yang tidak terputus dari kisah sebelumnya yakni tentang peran kerja sosok pria yang bekerja bukan di belakang meja, melainkan terjun langsung untuk memastikan bahwa para pihak yang berkonflik datang ke meja perundingan dan memberi keyakinan bahwa perundingan akan berjalan baik.

 

Tidak hanya itu. Setelah perdamaian dicapai melalui MoU, tugas lain yang (justru) lebih besar sudah ada di depan mata, yakni memastikan butir MoU diterapkan dan merawat perdamaian agar konflik tidak terjadi lagi. Kalau menggunakan analogi Pak JK sebagai pebisnis mobil, kesepakatan jual-beli mobil kadang dicapai tidak lebih dari 1–2 jam, tetapi memikirkan dan memberikan servis kepada pembeli bisa sampai kurun waktu sepuluh tahun ke depan. Dalam perdamaian pasca-konflik juga demikian. Tugas beratnya justru dalam implementasi MoU, dan itu membutuhkan komitmen serta kerja keras.

 

What people are saying - Write a review

We haven't found any reviews in the usual places.

Common terms and phrases

About the author (2020)

Dr. Farid W. Husain, Sp.B, KBD 

Tempat Tanggal Lahir : Soppeng (Sulsel), 9 Maret 1950


Pendidikan:

- Fak Kedokteran Univ Hasanuddin (Tamat Tahun 1978)

- Fak Kedokteran Univ Hasanuddin (Dr. Sp.B/Sp I) (Tamat Tahun 1981)

- Fak Kedokteran Univ Indonesia (Dr. Sp.BD/Sp II/Konsultan) (Tamat Tahun 1984)

- Fak Kedokteran Free Universiteit Amesterdam – Belanda (Tahun 1985

 

Riwayat Pekerjaan:

- Dosen Fakultas Kedokteran Univ Hasanuddin (1979-Sekarang).

- Deputi Menko Kesra Bidang Kesehatan, Lingkungan Hidup dan Sosial (2002-2005)

- Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik – Departemen Kesehatan RI (2005 –2010)

- Komisaris Utama PT ASKES (2008-2013)

- Utusan Khusus Presiden RI Untuk Damai Papua (2011 – 2014)

- Ketua Pengurus Pusat PMI (2014-sekarang)

- Komisaris Utama PT Kimia Farma (2015 - 2018)

- Komisaris Utama PT Bio Farma (Persero) (2018-Sekarang)

 

Penghargaan:

- Bintang Jasa Utama dari Pemerintah RI atas jasanya dalam perdamaian di Indonesia. (Tahun 2010)

- Gelar Pahlawan Masa Kini, bidang Perdamaian (Modernisiator Indonesia dan Majalah TEMPO - (Tahun 2008).

- Gelar Bungong Jaroe Perdamaian dari Pemerintah Aceh. (Tahun 2006)

- Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI (Periode 10, 20 dan 30 Tahun Pengabdian)

 

Aktivitas Bidang Perdamaian: 

- Utusan Khusus Pemerintah RI untuk Proses Perdamaian Thailand Selatan (2006-2008)

- Fasilitator pada Proses Perdamaian antara Pemerintah Thailand dan Gerakan perlawanan Pattani di Thailand Selatan. (Bogor, 22 – 9 - 2008).

- Penanggungjawab dan Mediator Delegasi RI pada Perjanjian Perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki – Finlandia. Tahun 2005.

- Mediator dan Fasilitator Perdamaian Ambon (Malino II) 2002 – Sekaligus sebagai Ketua Tim Pemantau Nasional Pelaksanaan Deklarasi Malino II

- Mediator dan Fasilitator Perdamaian Poso (Malino I) 2001 – Sekaligus sebagai Ketua Tim Pemantau Nasional Pelaksanaan Deklarasi Malino I


Bibliographic information